Jumat, 15 April 2011

Pelaksanaan Mewariskan Sifat Keturunan

Bagian terkecil dari suatu makhluk hidup dinamakan sel. Didalam inti sel dari kebanyakan makhluk hidup terdapat kromosom, yaitu benda-benda halus berbentuk batang panjang atau lurus atau bengkok. Kromosom adalah pembawa bahan keturunan.


KROMOSOM

Salah satu bagian dari kromosom dinamakan sentromer yaitu bagian yang membagi kromosom menjadi dua lengan.

Pada makhluk tingkat tinggi , sel somatis ( sel tubuh, kecuali sel kelamin ) mengandung satu stel kromosom yang diterimanya dari kedua induk/orang tua. Kromosom-kromosom yang berasal dari induk betina bentuknya serupa dengan yang berasal dari induk jantan, maka sepasang kromosom ini disebut kromosom homolog. Karena itu sepasang kromosom dalam sel tubuh disebut haploid ( 2n ). Gamet ) hanya mengandung separoh dari jumlah kromosom yang terdapat didalam sel somatis, karena itu jumlah kromosom dalam gamet dinamakan haploid ( n ). Satu stel kromosom haploid dari suatu spesies dinamakan genom.


Kromosom dibedakan atas autosom ( kromosom tubuh ) dan kromosom kelamin ( kromosom seks ). Contoh : lalat buah ( Drosophila melanogaster ) yang sering digunakan untuk penyelidikan genetika mempunyai 8 kromosom, terdiri dari 6 autosom dan 2 kromosom kelamin. Manusia memiliki 46 kromosom , terdiri dari 44 autosom dan 2 kromosom kelamin.


Pembelahan Sel

1.Mitosis
Gamet betina setelah dibuahi oleh gamet jantan akan bersifat diploid (2n) dan
dinamakan zigot.
Mitosis berlangsung dalam beberapa fase yakni interfase, profase, metafase dan
telofase
a). Interfase : sel siap membelah, tetapi belum memperlihatkan kegiatan
membelah,inti sel nampak keruh, lambat laun nampak benang-benang kromatin
yang halus.
b). Profase : benang-benang kromatin makin pendek, sehingga menjadi tebal dan
terbentuklah kromosom-kromosom. Tiap kromosom lalu membelah memanjang
(ini disebut dengan Kromatid ) dan dinding inti mulai menghilang. Sentriol (
bentuk seperti benang dalam sitoplasma )juga membelah.
c). Metafase : kromosom-kromosom menempatkan diri dibidang tengah dari sel.
d). Anafase : sentromer membelah dan kedua buah kromatid memisahkan diri dan
bergerak menuju ke kutub sel yang berlawanan. ( tiap kromatid memiliki sifat
keturunan yang sama dan sejak itu juga kromatid tersebut berlaku sebagai
kromosom baru ).
e). Telofase : ditiap kutub sel terbentuk stel kromosom yang identik. Serabit
gelendong inti lenyap dan dinding inti terbentuk lagi, kemudian plasma sel
terbagi

2 bagian dan proses ini disebut sitokinese.
Pada sel hewan hal ini ditandai dengan melekuknya sel kedalam, sedang pada
tumbuhan karena selnya berdinding sitokenese ditandai dengan terbentuknya dinding
pemisah ditengah-tengah sel.



2.Meiosis
Reproduksi seksual mencakup pembentukan gamet-gamet ( gametogenesis ), dan
pembuahannya ( fertilisasi ).

Gamet besifat haploid (n) tetapi berasal dari sebuah sel induk diploid (2n).
Berbeda dengan mitosis, meiosis berlangsung dalam 2 tingkat yakni

Meiosis I
a. Profase I : kromosom-kromosom homolog membentuk pasangan yang dinamakan
bivalen.Proses berpasangannya disebut sinapsis. Kemudian setiap anggota bivalen
membelah memanjang , sehingga terbentuklah 4 kromatid. ( keempat kromatid pada
satu bivalen dinamakan tetrad ). Dan selama sinapsis dapat terjadi pindah silang
yaitu peristiwa penukaran segmen dari kromatid-kromatid dalam sebuah tetrad.
b. Metafase I : Bivalen-bivalen menempatkan diri dibidang tengah dari sel secara
acakan
c. Anafase I : sentromer belum membelah. Dan kromosom-kromosom homolog ( masing-
masing terdiri dari 2 kromatid ) saling memisahkan diri dan bergerak menuju
ke kutub sel yang berlawanan ( kromosom menjadi terbagi dari keadaan diploid
menjadi haploid ).

Setelah itu berlangsung sitokenese , hingga sel induk yang mula-mula diploid
menjadi dua sel anakan masing-masing haploid, dan meiosis I berakhir.
Waktu yang pendek antara meiosis I dan meiosis II dinamakan interkinese.

Meiosis II
a. Profase II : serabut-serabut gelendong terbentuk lagi
b. Metafase II : sentromer-sentromer menempatkan diri ditengah sel
c. Anafase II : sentromer dari tiap kromosom membelah, kromatid-kromatid
memisahkan diri dan bergerak ke kutud yang berlawanan dan merupakan kromosom.
d. Telofase II : berlangsung sitokenese lagi, diikuti dengan terbentuknya dinding
inti.

Jadi pada meiose, maka sebuah sel induk diploid akhirnya menghasilkan empat
sel anakan masing-masing haploid.



GAMETOGENESIS

1. Gemetogenesis pada hewan tingkat tinggi ( juga pada manusia )
a.Spermatogenesis

Sel-sel primordial diploid didalam testis membelah mitose berkali-kali dan
membentuk spermatogonium . selama pertumbuhannya sei ini membentuk sel
spermatosit primer (diploid ) yang kemudian membelah secara meiosis.
Hasilnya berupa dua buah sel spermatosit sekunder yang masing-masing haploid.
Selanjutnya akan mengalami meiosis II dan menghasilkan 4 spermatid haploid.
Selama proses maturasi terbentuklah bagian seperti ekor dan tiap spermatid
menjadi gamet jantan yang dinamakan spermatozoon (spermatozoa ).

b.Oogenesis

Sel primordial diploid dalam ovarium (oogonium) mengalami pertumbuhan menjadi
oosit primer (masih diploid ).

Pada meiosis I jumlah kromosom siparoh/dibagi, kemudian sel membelah
menjadi sebuah sel besar (oosit sekunder ) dan sebuah sel kecil ( badal kutub
primer ). Badan kutub mengalami degenerasi (sangat mundur) dan tidak ikut
mengambil bagian dalam pembuahan.

Pada meiosis II dari oosit dihasilkan 2 buah sel tak sama besar, yang
besar disebut ootid dan yang kecil disebut badan kutud sekunder. Setelah
mengalami pertumbuhan, ootid menjadi gamet betina yang dinamakan sel telur
atau ovum. Sel telur yang dibuahi menjadi zigot ( bersifat diploid) yang
kemudian berkembang menjadi janin melalui mitosis berkali-kali.



2. Gametosis pada tumbuh-tumbuhan tingkat tinggi

Proses gametogenesis pada tumbuh-tumbuhan bunga ( angiospermae )
a. Mikrosporogenesis : gametogenesis yang berlangsung didalam bagian jantan
dari suatu bunga yang disebut kepala sari atau antera dan menghasilkan
seploid. Sebuah serbuk sari.

Sebuah sel induk mikrospora diploid dalam antera mula-mula mengalami meiosis
I dan menghasilkan sepasang haploid. Meiosis II menghasilkan 4 mikrospora
haploid yang berkelompok menjadi satu. Tiapmakrospora mengalami karyokinese
intinya membelah biasa), sehingga memiliki 2 inti haploid. Sebuah inti
dinamakan inti saluran serbukan dan yang lain disebut inti generatip. Setelah
terbentuk serbuk sari, inti generatip membelah secara mitosis tanpa disertai
sitokinese dan terjadilah 2 inti sperma. Inti saluran serbuk sari tidak
membelah. Dengan demikian makan sebutir serbuk sari yang telah masak
mengandung 3 inti masing-masing haploid, yaitu sebuah inti saluran serbuk
sari dan dua buah inti sperma.

b.Megasporogenesis : gametogenesis yang berlangsung didalam bagian betina dari
suatu bunga yang disebut bakal buah atau ovarium dan menghasilkan kandung
lembaga. Sebuah sel induk megaspora diploid dalam ovarium mengalami meiosis
I, menghasilkan 2 sel haploid. Dan meiosis II menghasilkan 4 megaspora
haploid yang terletak berderet. 3 megaspora mengalami degenerasi dan mati.
Sebuah megaspora yang tertinggal dan masih hidup mengalami pembelahan
kromosom secara mitosis tiga kali berturut-turut tanpa diikuti pembelahan
plasma. Hasilnya berupa sel besar (kandung lembaga muda) yang mengandung 8
inti haploid dan kandung lembaga ini dikelilingi oleh kulit (integumen),
tetapi diujungnya terdapat sebuah liang (mikrofil) sebagai tempat jalan
masuknya saluran serbuk sari kedalam kandung lembaga.
Tiga dari 8 inti tersebut menempatkan diri didekat mikrofil, tetapin 2
diantaranya mengalami degenerasi. Inti yang ketiga berkembang menjadi sel
telur. Tiga buah inti lainnya (antipoda) bergerak kearah yang berlawanan,
tetapi kemudian mengalami degenerasi pula. Sisanya dua inti ( inti kutub)
kemudian bersatu ditengah kandung lembaga dan terjadilah sebuah inti diploid
( 2n). Kini kandung lembaga yang sudah masak (megagametofit) telah siap
dibuahi.








FERTILISASI


Serbuk sarin biasanya jatuh diatas putik (stigma ) dengan perantara angin,serangga atau manusia. Peristiwa ini disebut penyerbukan . beberapa saat kemudian serbuk sari tumbuh dan membentuk saluran serbuk yang memanjang dan masuk ke dalam tangkai putik (stylus). Di dalam saluran serbuk sari itu terdapat 3 inti haploid, yaitu inti saluran serbuk terdapat didepan , sedang kedua inti sperma mengikuti dibelakang.

Saluran serbuk sari memasuki ovarium lewat mikrofil. Kedua inti sperma masuk ke kandung lembaga. Salah satu intin sperma bersatu dengan sel telur dan membentuk zigot diploid yang merupakan hasil persatuan dari dua inti kutub. Ini menghasilkan inti triploid (3n) yang setelah mengalami pembelahan berkali-kali akan membentuk jaringan putih lembaga (endosperm ). Jadi endosperm itu besifat triploid.

Oleh karena itu disinin terjadi 2 kali pembuahan, yakni antara inti sel sperma dengan inti sel telur, dan inti sel sperma hasil persatuan dua inti kutub, maka pembuahan pada tumbuh-tumbuhan berbunga (angiospermae) dinamakan pembuahan ganda.

TEORI KEMUNGKINAN

Beberapa dasar mengenai teori kemungkinan yang perlu diketahui ialah:
1. Besarnya kemungkinan atas terjadinya sesuatu yang diinginkan ialah sama
dengan perbandingan antara sesuatu yang diinginkan itu terhadap
keseluruhannya.

rumus: K(x)= x/x+y
K : Kemungkinan
K(x) : besarnya kemungkinan untuk mendapat x
x : peristiwa yang diharapkan
y : peristiwa yang tidak diharapkan
x + y = jumlah keseluruhan

contoh:
uang logam mempunyai dua sisi yaitu sisi atas (kepala), sisi bawah (ekor).
Jika kita melakukan tos (melempar uang logam ke atas) dengan sebuah uang
logam . berapa kemungkinanya kita mendapat kepala ?

jawab :
K(kepala) = kepala / kepala + ekor = 1 / 1+1 = 1/2

2. Besarnya kemungkinan terjadinya dua peristiwa atau lebih yang masing2 berdiri
sendiri adalah sama dengan hasil perkalian dari besarnya kemungkinan untuk
masing2 peristiwa itu.
rumus: K(x+y) = K(x) + K(y)
Contoh:
Suami istri masing-masing normal tetapi membawa gen untuk albino . berapa
kemungkinannya mereka akan mendapatkan seorang anak perempuan albino ?
Jawaban :

P lk Aa x pr Aa ( keduanya normal )
F1 AA = normal
Aa = normal =3/4
Aa = normal
aa = albino =1/4

jadi , K(albino) = ¼, sedangkan K(perempuan) = ½
maka K( pr albino) = ½ x ¼ =1/8


3. Kemungkinan terjadinya dua peristiwa atau lebih yang saling mempengaruhi ialah
sama dengan jumlah dari besarnya kemungkinan untuk tiap peristiwa itu.
rumus: K(x atau y) = K(x) + K(y)

Contoh:
Jika kita melakukan tos dengan dua uang logam bersama- sama, berapa
kemungkinannya akan mendapatkan 2 kepala atau 2 ekor pada kedua uang logam itu?
jawaban:
K(kepala) =1/2
K(ekor) =1/2
K(dua kepala) = 1/2 X 1/2= 1/4
K(dua ekor) = 1/2 X 1/2= 1/4

K(2 kepala atau 2 ekor) = 1/4 + 1/4 = 2/4 = ½

Buktinya
Uang logam 1 uang logam 2
Kepala ekor
Ekor kepala
Kepala kepala
Ekor ekor


Penggunaan rumus binomium ( a+b )n

Untuk mencari kemungkinan biasanya dapat ditempuh jalan yang lebih mudah ,
yaitu dengan menggunkan rumus binomium ( a+b )n.
Disini a dan b merupakan kejadian / peristiwa yang terpisah , sedangkan n
menyatakan percobaan ,

Contoh :

Suami istri masing-masing normal tetapi herozigotik untuk albino, ingin
mempunyai 4 orang anak. Berapa kemungkinannya bahwa
a. Semua anak itu akan normal
b. Seorang anak saja yang albino, sedang 3 yang lainnya albino
c. Anak yang terakhir saja yang albino, jika toh ada yang akan albino

Jawaban :
Karena di inginkan 4 orang anak maka ,
( a+b )4= a4 + 4a3b + 6a2b2 + 4ab3 + b4
Suami istri itu masing-masing mempunyai genotip Aa, sehingga perkawinan
mereka dapat dilukiskan sebagai berikut


P lk Aa x pr Aa ( keduanya normal )
F1 AA = normal
Aa = normal =3/4
Aa = normal
aa = albino =1/4
berhubungan dengan itu, andaikan
a = kemungkinan lahirnya anak normal (3/4)
b = kemungkinan lahirnya anak albino (1/4)
jadi ,
a). K(4 normal ) = a4 = (¾)4 = 81/256
b). K (3 normal 1 albino ) = 4a3b = 4 (¾)3 (1/4) =108/256
c). K(3 normal 1 albino ) = ¾ + ¾ + ¾ + ¼ = 27/256
nampaknya pertanyaan b dan c seolah-olah sama tapi sebenarnya beda.
Perhatikan saja jawabannya.

Tes X2

Tes X2 mempunyai rumus
X = € (d2/e)
e = hasil yang diramal/diharapkan
d = devisi/penyimpangan, yaitu selisih antara hasil yang diperoleh dan hasil
yang di ramal
€= sigma ( jumlah )
Dalam perhitungan nanti harus diperhatikan besarnya derajat kebebasan, yang
nilainya sama dengan jumlah kelas fenotipe dikurangi dengan satu. Jadi
andaikan perkawinan monohybrid menghasilkan keturunan dengan perbandingan 3:1,
berarti ada 2 kelas fenotip, sehingga derajat kebebasannya= 2-1=1. Jika ada
sifat intermediet, keturunannya memperlihatkan perbandingan 1:2:1. Berarti
disini ada 3 kelas fenitip, sehingga derajat kebebasannya adalah = 3-1=2.


Tes X2 untuk 2 kelas fenotipe

Contoh :
Suatu tanaman berbatang tinggi heterozigotik (Tt) menyerbuk sendiri dan
menghasilkan keturunan yang terdiri dari 40 tanaman berbatang tinggi dan 20
tanaman berbatang pendekn. Apakah hasil tersebut dapat dipercaya akan
kebenarannya?

Jawaban:
Menurut mendel, maka suatu monohibrit (Tt) yang menyerbuk sndiri seharusnya
menghasilkan keturunan dengan perbandingan fenotip 3 tinggi : 1 pendek. Jadi
secara teoritis akan didapatkan 45 tanaman berbatang tinggi dan 15 tanaman
berbatang pendek.
Tinggi Pendek Jumlah
Diperoleh(o) 40 20 60
Diperoleh (e) 45 15 60
Deviasi (d) -5 +5
(d-1/2)*) -4,5 +4,5
(d-1/2)2 0,45 1,35
X2= 0,45 + 1,35 = 1,80
Tes X2 untuk 3 kelas fenotip atau lebih

Contoh :
Misalnya kita melakukan percobaan dengan membiarkan suatu tanaman bunga
menyerbuk sendiri. Setelah tanaman ini menghasilkan buah dan biji-bijian
ditanam didapatkan keturunan yang terdiri dari keturunan tanaman berbunga
ungu, 28 tanaman berbunga merah, dan tanaman berbunga putih. Menrut dugaan
saudara peristiwa apakah yang berperan di sini dan pakah hasil percobaan itu
dapat dianggap benar?

Jawaban :
Melihat hasil tu dapat diduga bahwa ada peristiwa resesif yang secara
teoritis seharusnya menunjukkan perbandingan fenotip 9 : 3: 4
Ungu Merah Putih Jumlah
O 72 28 28 128
E 72 24 32 128
d 0 +4 -4
D2/e - 0,67 0,50
X2 0,67 0,50 =1,17
K(2) = antara 0,50 dan 0,70
Karena nilai kemungkinan di sini jauh lebih besar dari pada 0,05 maka tidak
ada factor lain yang mempengaruhi hasil tersebut, kecuali factor kemungkinan
jadi adanya defiasi itu hanya karena kebetulan saja, dan defiasi itu sendiri
tidak berarti maka hasil percobaan tersebut baik dan dapat dianggap benar.

Kamis, 14 April 2011

pengen tau lebih lanjut bisa liat di goolge

GEN LETAL

GEN LETAL
Gen letal atau gen kematian adalah gen yang dalam keadaan homozigotik dapat menyebabkan kematain individu yang dimilikinya. Ada gen letal yang bersifat dominan dan ada pula yang resesip. Gen letal ialah gen yang dapat mengakibatkan kematian pada individu homozigot. Kematian ini dapat terjadi pada masa embrio atau beberapa saat setelah kelahiran. Akan tetapi, adakalanya pula terdapat sifat subletal, yang menyebabkan kematian pada waktu individu yang bersangkutan menjelang dewasa. Ada dua macam gen letal, yaitu gen letal dominan dan gen letal resesif. Gen letal dominan dalam keadaan heterozigot dapat menimbulkan efek subletal atau kelainan fenotipe, sedang gen letal resesif cenderung menghasilkan fenotipe normal pada
Gen letal dominan
Beberapa contoh dapat dikemukakan disini.
1.      Pada ayam dikenal gen dominan C yang bila homozigotik akan bersifat letal dan menyebabkan kematian. Alelnya resesip c mengatur pertumbuhan tulang normal. Ayam heterozigot Cc dapat hidup, tetapi memperlihatkan cacat, yaitu memiliki kaki pendek. Ayam demikian disebut ayam redep (Creeper). Meskipun ayam ini Nampak biasa, tetapi ia sesungguhnya menderita penyakit keturunan yang disebut achondroplasia. Ayam homozigot CC tidak pernahdikenal, sebab sudah mati waktu embryo. Banyak kelainan terdapat padanya, sepeti kepala rusak, rangka tidak mengalami penulangan, mata kecil dan rusak. Perkawinan antara dua ayam redep meghasilkan keturunan dengan perbandingan 2 ayam redep:1 ayam normal. Ayam redep Cc itu sebenarnya berasal dari ayam normal (homozigot cc), tetapi salah satu gen resesip c mengalami mutasi gen (perubahan gen) dan berubah menjadi gen dominan C.
P          betina Cc         x          jantan Cc
            Redep                          redep
        Jantan
betina
C
c
C
CC
mati
Cc
redep
c
Cc
redep
Cc
norma
F1       






2.      Pada manusia dikenal Brakhifalangi, adalah keadaan bahwa orang yan berjari pendek dan tumbub menjadi satu. Cacat ini disebabkan oleh gen dominan B dan merupakan cacat keturunan. Penderita Brakhtifalangi adalah heterozigot Bb, sedang orang berjari normal adalah homozigot bb. Jika gen dominan gomozigotik (BB) akan memperlihatkan sifat letal. Jika ada dua orang brakhtifalaangi kawin, maka anak-anaknya kemungkinan memperlihatkan perbandingan 2 Brakhtifalangi: 1 Normal.
P          betin Bb          x          jantan Bb
            Brakhipalangi              Brakhipalangi 
        Jantan
betina
B
b
B
BB
Letal
Bb
Brakhipalangi           
b
Bb
Brakhipalangi           
Bb
normal
F1       







3.      Pada tikus dikenal gen letal dominan Y (Yellow) yang dalam keadaan heterozigotik menyebabkan kulit tikus berpigmen kuning. Tikus homozigot YY tidak dikenal,sebab letal. Tikus homozigot yy normal dan berpigmen kelabu. Perkawinan 2 tikus kuning akan menghasilkan anak dengan perbandingan 2 tikus kuning:1 tikus kelabu (normal). Dari ke tiga contoh dimuka dapat diketahui bahwa gen dminan letal baru akan nampak pengaruhnya letal apabila homozigotik. Dalam keadaan heterozigotik gen dominan letal itu tidak mengakibatkan kematian, namun biasanya menimbulkan cacat.
P          betin Yy          x          jantan Yy
            Kuning                        kuning
        Jantan
betina
Y
Y
Y
YY
Letal
Yy
kuning
Y
Yy
kuning
Yy
kelabu
F1       








Gen Letal resesip
Beberapa contoh dapat dikemukakan disini:
1.      Pada jagung (Zea mays) dikenal gen dominan G yang bila homozigotik menyebabkan tanaman dapat membentuk klorofil (zat hijau daun) secara normal, sehingga daun berwarna hijau benar. Alelnya resesip g bila homozigotik (gg) akan memperlihatkan pengaruhnya letal, sebab klorofil tidak akan berbentuk sama sekali pada daun lembaga, sehingga kecambah akan segera mati. Tanaman heterozigot Gg akan mempunyai daun hijau kekuningan, tetapi dapat hidup terus sampai menghasilkan buah dan biji, jadi tergolong normal. Jika 2 tanaman yangdaunnya hijau kekuninan dikawinkan maka keturunannya akan memperlihatkan perbandingan 1 berdaun hijau normal: 2 berdaun hijau kekuningan.
P          betin Gg          x          jantan Gg
            normal                         normal
        Jantan
betina
G
g
G
GG
normal
Gg
normal
g
Gg
normal
gg
letal
F1       





2.      Pada manusia dikenal gen letal resesip I yang bila homozigotik akan memperlihatkan pengaruhnya letal, yaitu timbulnya penyakit Ichytosis congenita. Kulit menjadi kering dan betanduk. Pada permukaan tubuh terdapat bendar-bendar berdarah. Biasanya bayi telah mati dalam kandungan.
P          betina Ii           x          jantan Ii
            normal                         normal
F1
        Jantan
betina
I
i
I
II
normal
Ii
normal
i
Ii
normal
ii
letal

                         






3.      Pada sapi dikenal gen resesip am, yang bila homozigotik (amam) akan memperlihatkan pengaruhnya letal. Anak sapi yang lahir, tidak mempunyai kaki sama sekali. Walaupun anak sapi ini hidup, tetapi karena cacatnya amat berat, maka kejadian ini tergolong sebagai letal. Sapi homozigot dominan AmAm dan heterozigot Amam adalah nomal. Cara menurunya gen letal resesip ini sama seperti pada contoh dimuka. andaikan ada sapi jantan heterozigot Amam kawin dengan sapi betina homozigot dominan AmAm, maka anak-anaknya akan terdiri dari sapi homozigot AmAm dan heterozigot Amam, di kemudian hari anak-anak sapi ini dibiarkan kawin secara acakan (random). Bagaimana kemungkinan sapi-sapi F2
P          betina AmAm             x          jantan Amam
            normal                         normal
G         Am                                          Am, am
F1
        Jantan
betina
Am
am
Am
AmAm
normal
Amam
normal






Macam perkawinan
Banyaknya perkawinan
F2
AmAm
Amam
amam
Jantan AmAm x betina AmAm
Jantan AmAm x betina Amam
Jantan Amam x betina AmAm
Jantan Amam x betina Amam
1/4
1/2
1/2
1/4
jumlah
1/4 = 4/16
1/4=4/16
1/4= 4/16
1/16
-
1/4=4/16
1/4=4/16
1/8 = 2/16
-
-
-
1/16
9/16
6/16
1/16
letal

Karena sapi F1 terdiri dari 2 macam genotip, yaitu AmAm dan Amam, maka ada 4 kemungkinan perkawinan, ialah:
·         1 kemungkinan AmAm X AmAm, jantan betina bolak-balik
·         1 kemungkinan betina AmAm X jantan Amam
·         1 kemungkinan jantan AmAm X betina Amam
·         1 kemungkinan Amam X Amam, jantan betina bolak-balik.
Oleh Karena sapi homozigot resesip amam letal, maka sapi-sapi F2 akan memperlihatkan perbandingan genotip 9 AmAm : 6 Amam. Dari berbagai keterangan di muka dapat diambil kesimpulan bahwa hadirnya gen letal menyebabkan keturunan menyimpang dai hukum mendel, sebab perkawinan monohybrid tidak menunjukan perbandingan 3:1 dalam keturunan, melainkan 2:1

Mendeteksi dan mengeliminir gen-gen letal
Dari keterangan dimuka dapat diketahui, bahwa gen letal dominan dalam keadaan heterozigotik akan memperlihatkan sifat cacat, tetapi gen letal resesip tidak demikian halnya. Berhubung dengan itu lebih mudah kiranya untuk mendeteksi hadirnya gen letal dominan pada satu individu daripada gen letal resesip.
Gen-gen letal dapat dihilangkan (dieliminir) dengan jalan mengadakan perkawinan berulang kali pada individu yang menderita cacat akibat adanya gen letal. Tentu saja hal ini mudah dapat dilakukan pada hewan dan tumbuh-tumbuhan tetapi tidak pada manusia.